Senin, 07 November 2016

Resep Cara Membuat Rendang Ayam


Rendang adalah merupakan salah satu makanan khas asal indonesia yang terkenal sebagai salah satu makanan yang paling enak di dunia. Masakan rendang ini ada berbagai macam jenis, diantaranya rendang daging, ayam, telur dsb. Dan kali ini saya akan mengulas mengenai Resep Cara Membuat Rendang Ayam.

http://www.masakankoki.com/wp-content/uploads/2015/06/Resep-Cara-Membuat-Rendang-Ayam-Enak-Praktis.jpg


Bahan Membuat Rendang Ayam Praktis :

1 kg ayam yang sudah bersih
500 ml santan kelapa
2 lembar daun jeruk
2 cm jahe ( memarkan
1 batang serai ( memarkan )
2 lembar daun salam
2 cm lengkuas ( memarkan )
1 sdt gula merah (yang sudah disisir tipis)
garam secukupnya
minyak untuk menumis secukupnya
penyedap rasa secukupnya

Bahan Bumbu halus :

2 buah cabe merah besar
1 cm kunyit
3 butir kemiri sangrai
6 butir bawang merah
3 siung bawang putih

Cara Membuat Rendang Ayam Enak :

Ø  Langkah pertama, potong-potong ayam hingga menjadi 5-8 bagian atau sesuai selera
Ø  Langkah kedua, Tumis bahan bumbu yang dihaluskan dengan minyak goreng secukupnya sampai harum. Kemudian masukkan batang serai beserta daun jeruk, lengkuas, daun salam, dan jahe, Setelah itu aduk hingga layu.
Ø  Selanjutnya, Tuang santan kedalam bumbu yang ditumis tadi, lalu diamkan hingga mendidih sambil diaduk-aduk. Kemudian masukkan potongan ayam kedalam bumbu, setelah itu diamkan hingga bumbu meresap dan kuah terlihat menyusut.
Ø  Terakhir, Tambahkan 1 sdt gula merah beserta garam dan penyedap rasa secukupnya , lalu aduk hingga tercampur rata dan matang. Setelah itu angkat dan rendang ayam buatan anda siap untik disajikan.

Minggu, 06 November 2016

Mencintai Klub Sepakbola Jakarta (Persija Jakarta)



Cinta adalah ketika kamu punya sejuta alasan untuk meninggalkan, tapi tetap saja kamu mencari satu alasan untuk bertahan. Cinta adalah ketidakmungkinan yang masih saja kamu semogakan.

Persija adalah Cinta

Rindunya karena rindu tribun. Galaunya karena galau tim kebanggaan. Sakit hatinya bukan karena pasangan. Mungkin ini warna yang bisa saya rasakan, warna yang tidak semua orang bisa alami.Kata orang sepakbola itu romantis. Cinta sepakbola itu sederhana, kamu enggak perlu memecahkan celengan untuk ngedate, tidak perlu pusing nyari tempat kece dan berdandan heboh. Kamu hanya perlu atributmu, melangkahkan kaki ke tempat romantis bernama stadion, mengantri beli tiket dan berdiri bernyayi bersama diatas tribun. Keringatmu, teriakanmu, kehadiranmu menunjukan cinta itu. Selayaknya menjalin hubungan pada umumnya, restu orangtua itu nomor satu. Kalau enggak direstui ya backstreet. Pergi ke stadion secara diam-diam dan menyimpan atribut secara rapat-rapat.

Menjalin hubungan layaknya orang pacaran, jangan harap kamu diapelin. Tugas kamu berikutnya adalah mengunjungi sang kebanggaan saat dia bertanding atau sekedar latihan. Jenuh? Lelah? Mungkin itu sering dirasakan, apalagi ketika sang kekasih seolah mulai tak menghargaimu dengan penampilannya dilapangan hijau. Namun kembali lagi, cinta memang tak akan beranjak dan cinta tau kemana dia harus pulang. Semakin besar rasa untuk pergi, semakin besar juga rasa untuk terus bertahan.

Sejak tahun 2001, 15 tahun bukan lah waktu yang sebentar hanya untuk sekedar melihat kebanggaan saya angkat piala (lagi). Tahun demi tahun, liga demi liga, kompetisi demi kompetisi, dan yang terakhir turnamen demi turnamen, belum ada satupun piala yang masuk ke dalam lemari piala Persija Jakarta. Entah kunci lemari masih bisa dibuka atau tidak ketika nanti suatu hari Persija jadi juara? Kami bisa menunggu, tapi karat tak bisa sesabar itu.

Berjuta alasan untuk meninggalkan terpampang jelas di depan mata. Tapi sekali lagi, Persija adalah cinta. Karena cinta kami kesampingkan semuanya. Pemain idola yang pergi, stadion yang belum terealisasi, bahkan ketika legenda hidup kami di khianati. Mungkin benar jika cinta itu memang buta, kami membanggakan yang faktanya (maaf) terkadang memalukan, kami membela yang tidak pernah memberi apa-apa, dan mencintai sesuatu yang kapanpun siap menyakiti. Karena cinta kami menjadi gila, karena cinta kami masih percaya, bahwa semua akan indah pada waktunya. Waktunya kapan? Ya.. Kapan-kapan.

Persija adalah ketidakmungkinan yang masih saja saya semogakan. Dengan keadaan yang masih begitu-begitu aja setiap harinya, saya masih percaya bahwa Persija itu macan. Di tangan orang licik, macan cuma jadi tontonan sirkus yang di eksploitasi demi kepentingan materi. Di tangan orang yang mencintainya, macan akan di ajarkan cara memangsa, dia akan di ajarkan bahwa takdir macan adalah untuk di takuti, bukan di permainkan oleh sekumpulan orang yang memberinya makan. Silahkan menafsirkan sendiri arti perumpamaan tadi..

Jelang turnamen baru (lagi), hanya ada beberapa nama yang familiar di dalam skuad team. Selebihnya, entah siapa dan darimana asalnya. Selama lambang monas tepat berada di depan dada, siapapun anda, setiap langkah kaki anda akan berselimut oleh ribuan doa. Bertandinglah dengan rasa bangga, dengan cinta, dan dengan tekad menjadi juara. Percayalah, kapanpun dan dimanapun, kami akan selalu ada. Meski bukan dengan raga, kami akan selalu ada lewat doa. Percayalah, jangan pernah takut kamu sendirian. Sebab, berapa kalipun kamu mengecewakan, selalu ada cinta yang akan memaafkan. Percayalah, berapa kalipun kamu menyakiti, cinta ini akan selalu ada sampai nanti kami mati. Karena pada dasarnya Sepakbola adalah romantisme cinta paling nyata. Dia memaksa kita untuk meneteskan airmata dan tersenyum pada saat bersamaan.

Kesenian Ondel-Ondel Betawi


Siapa yang tak kenal ondel-ondel yang muncul ketika perayaan hari jadi Jakarta. Sosoknya yang unik membuat acara Hari Ulang Tahun Jakarta semakin meriah. Ondel-ondel pun bisa di bilang sebagai maskotnya kota Jakarta, meskipun perkembangan jaman yang sudah modern sosok ini tidak akan pernah lekang oleh waktu, setiap warga Jakarta selalu menunggu kehadirannya.

Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak” dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5M, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada didalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot.
Ondel-ondel yang menggambarkan laki-laki mukanya bercat merah, yang menggambarkan perempuan bermuka putih atau kuning. Ondel-ondel biasanya digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, seperti mengarak pengantin sunat dan sebagainya. Lazimnya dibawa sepasang saja, laki dan perempuan. Tetapi dewasa ini tergantung dari permintaan yang empunya hajat. Bahkan dalam perayaan-perayaan umum seperti ulang tahun hari jadi kota Jakarta, biasa pula dibawa beberapa pasang, sehingga merupakan arak-arakan tersendiri yang cukup meriah. Musik pengiring ondel-ondel tidak tertentu, tergantung masing-masing rombongan. Ada yang diiringi Tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Gejen, kampung Setu. Ada yang diiringi gendang pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh (alm), sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diiringi Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana Ketimpring, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Lamoh, kalideres.

Tak hanya kota Jakarta saja yang mempunyai sejarah, namun ondel-ondel ini pun memiliki riwayat sejarahnya. Konon boneka raksasa itu dahulunya sering diarak keliling kampung oleh warga Betawi. Ternyata awalnya ondel-ondel disebut Barongan, namun tak ada yang tahu pasti arti kata tersebut. Mungkin berasal dari kata Barengan yang berarti bareng-bareng atau sama-sama. Sebutan itu sebenarnya dari kalimat ajakan dalam logat Betawi “nyok, kite ngarak bareng-bareng, ”. Sejak kapan kemunculannya ondel-ondel ?  Namun yang jelas boneka raksasa ini sudah ada sejak atau bahkan jauh sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie  masuk ke Nusantara.

W. Scot, seorang pedagang asal Inggris mencatat dalam bukunya, jenis boneka seperti ondel-ondel sudah ada pada tahun 1605.  Namun, karena perbedaan kultur dan budaya, Scot melihat tradisi Betawi terlihat asing dimatanya, sehingga bentuk penyampaian lisan maupun tulisan hanya berupa gambaran-gambaran secara kasat mata saja dan mengambil istilah-istilah yang relevan dengan bahasa bangsanya. Seorang asal Amerika bernama E.R. Schidmore yang datang di Batavia pada penghujung abad ke 19, melaporkan dalam bukunya, "Java, The Garden of The East", tentang adanya pertunjukan seni di Betawi berupa tarian-tarian di jalanan, karena perbedaan latar budaya dan tradisi alhasil Schidmore tidak menyebut secara jelas apa jenis tarian yang bermain di jalanan itu. Namun dapat diperkirakan bahwa kesenian itu adalah ondel-ondel, mengingat tarian itu bermain di jalanan.

Pembuatan ondel-ondel dengan menerapkan ritual seperti itu masih berlangsung hingga 1980-an. Namun setelah masa itu, proses ritual tersebut mulai ditinggalkan sejalan dengan bergesernya fungsi ondel-ondel. Seiring perkembangan zaman, ondel-ondel digunakan untuk menambah semarak pesta-pesta rakyat, hajatan perkawinan atau khitanan, serta untuk penyambutan tamu kehormatan, semisal pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Ketika masa kepemimipinan gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966-1977), ondel-ondel dijadikan sebagai boneka seni khas Betawi. Ondel-ondel juga menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur.  Ketika melakukan pertunjukan, dengan menggoyang-goyangkan badan dan kepala yang menoleh ke kiri dan ke kanan, ondel-ondel sering kali diiringi musik khas Betawi saeperti tanjidor, pencak Betawi, bende, ningnong, rebana, dan ketimpring. Ketika wajah kota Jakarta berubah menjadi lebih modern sekitar 1960-an hingga kini, wajah boneka raksasa itu tampilannya tidak lagi seram dan berbau mistis. Wajah dan gambaran dari ondel-ondel masa kini tampak lebih manis dan bersahabat. Hal itu sejalan dengan fungsi ondel-ondel yang berubah menjadi boneka penghibur bagi semua kalangan, termasuk anak-anak.

Sumber :
http://metro.sindonews.com/read/967261/31/asal-usul-boneka-raksasa-dari-betawi-1424515684

Jumat, 07 Oktober 2016

SUKU ASMAT DI PAPUA



SEJARAH SUKU ASMAT DI PAPUA

Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain.Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai, perkotaan bahkan dipedalaman. Salah satu diantaranya Suku Asmat. Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya. Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.


Kehidupan Adat Istiadat Suku Asmat
 Suku asmat adalah sebuah suku di papua. suku asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. populasi suku asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup,sturktur sosial dan ritual.populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku simai.











Adat Kebiasaan

Dalam kehidupan masyarakat Suku Asmat, masih banyak kebiasaan yang sangat aneh. Salah satunya, kebiasaan mereka yang sangat mengerikan dan sulit diterima akal sehat, yaitu saat mereka membunuh musuhnya. Mereka masih menggunakan cara-cara zaman prasejarah. Setelah dibunuh, mayat musuh tersebut dibawa pulang ke kampung. Di kampung, mayat tersebut dipotong-potong, lalu dibagi-bagi ke seluruh penduduk. Para penduduk itu berkumpul dan memakan potongan mayat bersama-sama. Ketika memakan mayat itu bersama-sama, para penduduk menyanyikan lagu yang mereka sebut dengan lagu kematian. Tak cukup sampai di sana, mereka pun memenggal kepala si mayat. Otak mayat itu diambil, kemudian dibungkus dengan daun sagu. Setelah itu, otak tersebut dipanggang untuk dimakan bersama-sama, betapa mengerikan.
Orang-orang Asmat pandai membuat hiasan ukiran. Hebatnya, mereka membuat ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Ukiran-ukiran yang mereka buat memiliki makna, yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang. Bagi Suku Asmat, mengukir bukan pekerjaan biasa. Mengukir adalah jalan bagi mereka untuk berhubungan dengan para leluhur. Orang-orang Suku Asmat percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal dapat menyebabkan bencana bagi orang yang masih hidup, menyebabkan peperangan, juga menyebarkan penyakit. Untuk menghindari hal tersebut, orang-orang Suku Asmat akan membuat patung dan menyelenggarakan berbagai macam pesta. Di antaranya adalah Pesta Bis, Pesta Perah, Pesta Ulat Sagu, dan Pesta Topeng.  Ada banyak pertentangan di antara desa asmat. yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai suku asmat membunuh musuhnya. ketika musuh bunuh, mayatnya dibawa kekampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk memakan bersama. mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. otaknya dibunngkus daun sago dan dipanggang kemudian dimakan.

Berhias

           Kehidupan Suku Asmat belum banyak terpengaruh oleh kehidupan modern. Salah satu contohnya adalah kebiasaan berhias. Mereka masih berhias sesuai dengan cara mereka sendiri. Mereka mencoreng wajah dengan berbagai warna. Warna-warna tersebut mereka peroleh dengan cara yang sangat sederhana. Warna yang mereka gunakan untuk menghias wajah adalah warna merah, putih, dan hitam. Untuk warna merah, mereka dapatkan dari tanah merah yang banyak di sekitar mereka. Warna putih mereka dapatkan dari kulit kerang yang sebelumnya ditumbuk sampai halus. Dan, warna hitam, mereka dapatkan dari arang kayu, yang juga ditumbuk sampai halus. selain budaya, penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku asmat umumnya.


 












Ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku asmat. Patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa. bagi suku asmat kala menukir patung adlah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yag ada di alam lain. itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga). Percaya sebelum memasuki surga< arwah orang sudah meninggal akan mengganggu manusia. gangguan bisa berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan mengelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat ulat sagu. Konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. namun kini membuat patung bagi suku asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp. 100 ribu hingga jutaan rupiah diluar papua.

Mata Pencaharian  

           Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti, ular, kasuari< burung< babi hitan< komodo dll. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah. Dalam kehidupannya, Suku Asmat memiliki 2 jabatan kepemimpinan, yaitu a. Kepemimpinan yang berasal dari unsur pemerintah dan b. Kepala adat/kepala suku yang berasal dari masyarakat.Sebagaimana lainnya, kapala adat/kepala suku dari Suku Asmat sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam menjalankan tata pemerintahan yang berlaku di lingkungan ini. Karena segala kegiatan di sini selalu didiihului oleh acara adat yang sifatnya tradisional, sehingga dalam melaksanakan kegiatan yang sifatnya resmi, diperlukan kerjasama antara kedua pimpinan sangat diperlukan untuk memperlancar proses tersebut Bila kepala suku telah mendekati ajalnya, maka jabatan kepala suku tidak diwariskan ke generasi berikutnya, tetapi dipilih dari orang yang berasal dari fain, atau marga tertua di lingkungan tersebut atau dipilih dari seorang pahlawan yang berhasil dalam peperangan.
Sebelum para misionaris pembawa ajaran agama datang ke wilayah ini, masyarakat Suku Asmat menganut Anisme. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam. Dengan kegiatan sehari-hari yakni bercocok tanam di ladang, dengan jenis tanamannya wortel, matoa, jeruk, jagung, ubi jalar dan keladi juga beternak ayam, babi. Demikian menariknya adat istiadat suku ini, sehingga perlu dilestarikan. Disamping itu juga, dapat digunakan sebagai obyek pariwisata untuk mendapatkan devisa bagi negara. ”Berbeda beda tetapi tetap satu jua, itulah Indonesia”. Kata kata itu pasti sangat dekat di pikiran anda? Kalau kita membuka buku ragam budaya di tanah air, tentunya kita akan mengetahui bahwa negara Indonesia terdiri dari banyak suku dan budaya, salah satunya adalah Suku Asmat, suku yang mendiami wilayah timur indonesia (papua). Mari kita tengok lebih dalam tentang suku asmat.
           Suku asmat merupakan sebuah suku dengan berjuta juta keunikan, serta menyimpan banyak potensi wisata. Suku ini sangat dikenal dengan hasil karya seni ukirnya. Anda sebagai pecinta wisata budaya pasti kenal dengan patung asmat? Sebuah karya yang sangat fenomenal. Suku asmat, terdiri dari 2 kelompok yaitu asmat pesisi dan asmat pedalaman. Keduanya sangat berbeda dalam hal dialek, cara hidup ataupun budayanya; tetapi ada kesamaan yaitu sangat menarik untuk dijadikan tujuan wisata budaya. Asmat pesisir terbagi lagi menjadi dua yaitu bisman dan simai.

Proses Kehidupan

Kehamilan
Selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar bisa lahir dengan selamat dengan donasi ibu kandung alau ibu mertua. Generasi penerus akan didik berdasarkan adat-istiadat nan berlaku dalam kebudayaan suku Asmat .

Kelahiran
Kebudayaan suku Asmat dalam proses kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara mutilasi tali pusar nan menggunakan Sembilu, alat nan terbuat dari bambu nan dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.

Pernikahan
Proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita nan telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian buat membeli wanita dengan mas kawinnya piring kuno nan berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal bahtera Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga bahtera Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap. Dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, baik kaum pria maupun wanita melakukannya di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja di ladang. Selanjutnya, ada peristiwa nan unik lainnya dimana anak babi disusui oleh wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.

Kematian
Bila kepala suku atau kepala adat nan meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan mutilasi ruas jari tangan dari anggota keluarga nan ditinggalkan. Masyarakat dalam kebudayaan suku Asmat melakukan kegiatan bercocok tanam di ladang, dengan jenis tanamannya wortel, matoa, jeruk, jagung, ubi jalar dan keladi juga beternak ayam, babi. Demikian menariknya adat istiadat suku ini, sehingga perlu dilestarikan. Disamping itu juga, bisa digunakan sebagai obyek pariwisata buat mendapatkan devisa bagi negara.


Sistem Kekerabatan

           Kekerabatan orang-orang Asmat menganut prinsip garis keturunan laki-laki atau pihak ayah (partrilineal) dengan pola menetap di sekitar kediaman kerabat suami (virilokal). Apabila suami meninggal dunia, maka istri tetap tinggal bersama keluarga suami berserta anaknya dan menjadi tanggung jawab keluarga suami. Ada proses perencanaan perkawinan (tinis), dan cara perkawinan “Persemdan Mbeter”. Persem adalah perkawinan yang terjadi akibat hubungan rahasia antara seorang perjaka dengan seorang gadis, kemudian diakui oleh orang tua kedua belah pihak. Mbeter adalah kawin lari yaitu pihak laki-laki melarikan si gadis untuk dinikahi. Perkawinan mbeter seringkali menjadi pertikaian kedua belah pihak, secara tradisional pertikaian ini baru berakhir bila jatuh korban dari kedua belah pihak. Perkawinan tini yang melamar adalah pihak perempuan. Melalui perkawinan, suami punya hak atas daerah sagu dan daerah milik mertua. Sistem perkawinan mengikuti prinsip eksogami (di luar sukunya).

Makanan Pokok

Makanan Pokok orang Asmat adalah sagu,hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api.Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu,biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah,ditaburi sagu,dan dibakar dalam bara api.Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun demikian yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih.Air tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa.Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Agama

           Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Papua dan dalam hal ketuhanan, Papua dapat dijadikan contoh bagi daerah lain. Majoriti penduduk Papua beragama Kristian, namun demikian, seiring dengan perkembangan kemudahan pengangkutan dari dan ke Papua maka jumlah orang yang beragama lain termasuk Islam juga semakin berkembang. Banyak mubaligh sama ada orang asing mahupun rakyat Indonesia sendiri yang melakukan misi keagamaannya di pedalaman-pedalaman Papua. Mereka berperanan penting dalam membantu masyarakat sama ada melalui sekolah-sekolah mubaligh, bantuan perubatan mahupun secara langsung mendidik masyarakat pedalaman dalam bidang pertanian, mengajar Bahasa Indonesia dan pengetahuan-pengetahuan amali yang lain – lainnya. Mubaligh juga merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum dibina oleh penerbangan biasa.

Bahasa

           Di Papua ini terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada. Aneka pelbagai bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia digunakan secara rasmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman.

Sumber :
http://indonesian-story.com/kunjungan/sejarah-adat-istiadat-suku-asmat/
http://debuh.com/berita-uncategorized/makalah-suku-asmat-keterampilan-adat-istiadat/16818/
http://aspal-putih.blogspot.com/2011/07/mengenal-suku-asmat-di-papua.html#ixzz1k6RbZLQ0