Jumat, 08 April 2016

Hubungan film “An Inconvenient Truth” dengan materi Ilmu Sosial Dasar



Hubungan film “An Inconvenient Truth” dengan materi Ilmu Sosial Dasar yang dapat saya ambil yaitu pengetahuan tentang awal mula terjadinya Pemanasan Global (Global Warming)  dan dampak bagi kehidupan sosial dilingkungan masyarakat. penjelasan film tersebut juga mencakup tentang cara hidup sehat dilingkungan masyarakat untuk mengendalikan pemanasan global contoh kecilnya dengan membuang sampah pada tempatnya.

Film tersebut juga memberikan penjelasan bahwa masih ada harapan dan kemungkinan untuk hidup terus di Bumi, yaitu dengan melakukan perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri sampai dengan langkah global. Kepentingan dari penghentian efek global warming telah menjadi hal yang sangat penting sebagai tanggung jawab dan kepentingan bersama sebagai langkah untuk mencegah dan mengurangi efek dari pemanasan global yang tidak lain telah disebabkan oleh perilaku manusia.

Resensi Film "An Inconvenient Truth"

Film “An Inconvenient Truth” merupakan Film dokumenter berdurasi 93 menit ini banyak menyodorkan data-data yang cukup mencengangkan. Data-data mengenai konsentrasi karbondioksida yang terus meningkat, temperatur air laut yang melewati batas normal, bencana alam yang semakin sering terjadi, mencairnya es di kutub, serta kemunculan penyakit-penyakit baru yang diakibatkan oleh global warming. film global ini dibintangi oleh Al Gore dan disutradarai oleh Davis Guggenheim. Dalam film ini diceritakan global warming menyebabkan berbagai permasalahan dunia. Permukaan air laut perlahan naik sampai menelan pantai timur Amerika. Gedung pencakar langit World Trade Center (yang sempat dibom 11 September 2001) bahkan ikut tenggelam. Di sini dapat dijelaskan bahwa pemanasan global sedang terjadi dan hal tersebut berbahaya bagi masa depan umat manusia. Contoh dalam hal ini, misalnya volume gletser yang menurun di berbagai tempat di dunia, badai Katrina, rata-rata suhu yang panas di berbagai kota di dunia, bencana kekeringan, penipisan es di Artik, serta luas daratan yang berkurang jika es di Antartika atau Greenland mencair.

Kehidupan pribadi Al Gore membuatnya menjadi pejuang lingkungan yang terkait dengan pemanasan global. Ada kaitan bahwa pemicu dari pemanasan global adalah dari Negara-negara yang sedang berkembang karena mereka mempunyai penduduk miskin, sehingga mereka lebih mengandalkan kekayaan SDA dengan melakukan penebangan hutan, eksplorasi migas, pembukaan lahan baru, industrialisasi untuk meningkatkan kondisi ekonomi. Mereka juga belum siap untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan dalam membangun infrastruktur seperi listrik dan bengunan industri.

Jika mayoritas ilmuwan di dunia ini benar, maka manusia hanya mempunyai waktu sepuluh tahun untuk menghindari bencana luar biasa yang membawa planet bumi kepada pengerusakan termasuk iklim cuaca, banjir, masa kekeringan, wabah dan gelombang panas mematikan melebihi apa pun yang pernah kita alami Global warming akan dirasakan seluruh dunia tanpa terkecuali : Afrika akan mengalami kekeringan, Asia akan mengalami banjir, Amerika akan mengalami badai dan tornado, serta seluruh dunia akan mengalami dampak naiknya air laut. Penelitian dari para ahli yang dilakukan di wilayah Greenland memperlihatkan bahwa siklus bumi terjadi perubahan tiap tahunnya dari ribuan tahu yang lalu. Namun perubahan yang mencolok pada iklim bumi terjadi dalam sepuluh tahun terakhir yang terus meningkat tanpa adanya penurunan. Laporan dari IPCC tekait dengan perubahan iklim adalah mengenai semakin meningkatnya panas atmosfir yang meningkat dari 1,4 derajat celcius menjadi 5,8 derajat celcius di akhir abad 21 .

Ancaman lain yang lebih besar adalah mulai mencairnya es di wilayah Alaska, Greenland, Kutub Utara dan daearah Antartika. Padahal fungsi es ini sangat penting bagi keseimbangan iklim dan cuaca bumi yang menentukan kesehatan lingkungan kita dan juga sebagi pemantul dari radiasi matahari serta tempat tinggal bagi satwa seperti beruang, anjing laut dan penguin. Semua ini akan menghancurkan Bumi dan diperkirakan 100 juta orang lebih bisa terancam. Hal ini tidak terasa oleh manusia karena manusia semakin terbiasa dengan keadaan yang ternyata dapat menghancurkan kehidupan makhluk hidup. Ada analogi menarik yang dipaparkan dalam film ini. Seekor kodok dimasukkan dalam air mendidih, ia akan segera melompat kembali keluar karena tiba-tiba merasakan kondisi berbeda. Namun, bila kodok dimasukkan dalam air yang normal kemudian perlahan-lahan air itu dipanaskan, kodok itu tak akan melompat keluar. Ini sama dengan manusia yang tidak merasa khawatir akan pemanasan Bumi, padahal Bumi terancam.

Pemanasan Global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) terutama karbon dioksida CO2, gas metan CH4 dan nitrous oksida N2O yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar dari fosil, penggundulan hutan dan praktek pertanian sedangkan perubahan ini ditandai dengan melimpahnya hujan di atas rata-rata saat musim hujan dan kemarau yang berkepanjangan pada musim panas . Pemanasan merupakan keadaan di mana suhu atmosfer bumi meningkat, sehingga es di kutub mencair. Suhu atmosfer bumi bisa meningkat karena efek rumah kaca (greenhouse effect). Karena jumlah gas-gas rumah kaca (misalnya karbondioksida, metana, dll) di atmosfer melebihi batas, mereka menahan panas matahari yang masuk sehingga suhu di bumi semakin lama semakin meningkat.

Gore memperkirakan perubahan yang besar yang terjadi ini setelah jumlah kondisi emisi karbon di bumi semakin banyak. Hal ini terjadi setelah banyak Negara melakukan revolusi industri, kegiatan pertambangan pada bahan energi dan mineral serta perambahan hutan guna kepentingan ekonomi. Kegiatan ini terjadi berlangsung dalam waktu lama tanpa ada upaya penyeimbangan yang berkelanjutan dari Negara-negara yang melakukan kegiatan tersebut.
Gore kemudian membahas mengenai dampak dari global warming yaitu ancaman kepunahan berbagai macam hewan-hewan besar, aves, amphibi maupun biota laut. Fluktuasi temperatur yang terjadi saat ini mengakibatkan perubahan iklim dan membawa dampak pada kemampuan satu spesies untuk hidup dihabitat asli mereka dan semakin terancaman kepunahan bagi banyak spesies.

Kemudian film tersebut memberikan penjelasan bahwa masih ada harapan dan kemungkinan untuk hidup terus di Bumi, yaitu dengan melakukan perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri sampai dengan langkah global. Kepentingan dari penghentian efek global warming telah menjadi hal yang sangat penting sebagai tanggung jawab dan kepentingan bersama sebagai langkah untuk mencegah dan mengurangi efek dari pemanasan global yang tidak lain telah disebabkan oleh perilaku manusia.

1.      Iklim mulai tidak stabil. Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan  munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma.
2.      Peningkatan permukaan laut.
3.      Suhu global cenderung meningkat. Beberapa Negara mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Namun, di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam.
4.      Gangguan ekologis. Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
5.      Dampak sosial. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain. Contoh lain yaitu kekeringan dan kebakaran. Kekeringan yang berkepanjangan akan memperbesar kemungkinan kebakaran dalam suatu tempat.

Solusi Problematika                                                    
Tindakan yang bisa kita lakukan dalam mengendalikan global warming dimulai dari langkah-langkah sederhana yang bisa kita lakukan, seperti:
1.      Membeli produk-produk yang bisa didaur ulang karena dapat mengurangi pencemaran.
2.      Berjalan kaki saat bepergian jika jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh.
3.      Membawa tas sendiri untuk barang belanjaan sehingga mengurangi penggunaan kantong plastik.
4.      Membuang sampah pada tempatnya.
5.      Mematikan lampu jika tidak diperlukan.

Kemudian langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk kepentingan agregat dalam mengendalikan pemanasan global, diantaranya:
1.      Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya.
2.      Menerapkan pemahaman dan pengetahuan tentang pentingnya bagaimana melestarikan lingkungan dan pencegaham global warming.
3.      Penggunaan sistem AMDAL bagi kegiatan pembangunan yang terkait dengan kelestarian lingkungan.
4.      Pembatasan emisi buang kendaraan di jalanan.
5.      Reboisasi hutan.
6.      Menjaga dan melindungi kelestarian ekosistem hutan.
7.      Menjaga dan melindungi ekosistem laut dan terumbu karang.
8.      Pencegahan pergantian penggunan lahan hutan lindung untuk kegiatan manusia yang bersifat ekonomis.
9.      Pencegahan pestisida dan bahan-bahan kimia bagi produk pertanian.
10.  Pengelolaan limbah secara baik dan benar.
11.  Melaksanakan pelestarian lingkungan antara Negara industri dengan Negara berkembang terutama untuk merawat lingkungan dalam kaitannya mencegah global warming.

Sumber :
http://elizaichanurfitria.blogspot.co.id/2012/02/review-film-inconvenient-truth-al-gore.html

Minggu, 13 Desember 2015

TUGAS SOFTSKILL ILMU BUDAYA DASAR









AKBAR MAULANA
(30415419)
1ID01


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015/2016
 

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN BUDAYA BETAWI

1. ASAL USUL BETAWI

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa. Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India. 
Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.
Kosa kata “betawi” bukan berasal dari kata “Batavia”. Batavia merupakan nama Latin untuk Tanah Batavia, yang  pada zaman Romawi, diperkirakan terletak di sekitar kota Nijmegen, Belanda, dimana saat ini sisa-sisa lokasi tersebut dikenal sebagai “Betuwe”.  Selama Renaisans, sejarawan Belanda mencoba untuk melegitimasi Batavia menjadi sebuah status "Nenek Moyang" mereka, selanjutnya menyebut diri sebagai Orang-orang Batavia. Hal ini yang membuat munculnya Republik Batavia, dan mengambil nama "Batavia" untuk nama koloni mereka. Seperti yang terjadi di Indonesia, dimana mereka mengganti nama Kota Jayakarta menjadi Batavia dari tahun 1619-1942.
Setelah 1942 nama Batavia diubah lagi menjadi Djakarta.
Nama Batavia juga digunakan di Suriname, dan di Amerika Serikat, karena mereka juga mendirikan kota Batavia, Newyork, hingga ke barat Amerika Serikat, seperti; Batavia, Illinois, dekat Chicago, dan Batavia, Ohio, sedangkan penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku, pada masa hindia belanda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama “Perkoempoelan Kaoem Betawi” pada tahun 1923, yang diprakarsai oleh Husni Thamrin.

2. SEJARAH BETAWI 
3500 – 3000 SM (Sebelum Masehi)

Abad ke-2
      Menurut Yahya Andi Saputra,  Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor.

Abad ke 5
      Penduduk asli Betawi adalah rakyat kerajaan Salakanagara, dimana perdagangan dengan Cina telah maju, yang ditandai oleh adanya pengiriman Utusan Dagang ke Cina dari Salakanagara pada tahun 432. Pada akhir abad ke-5 berdiri kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi kali Citarum, yang dianggap oleh sebagian sejarawan, bahwa Tarumanagara merupakan kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara, yang memindahan ibukota kerajaannya dari kaki Gunung Salak ke Tepi Kali Citarum.Penduduk asli Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara, dengan Ibukota Kerajaan yang terletak di tepi Sungai Candrabagha, yang oleh Poerbatjaraka diidentifikasi dengan sungai Bekasi.
Candra berarti bulan atau sasi, menjadi Bhagasasi / Bekasi, yang terletak di sebelah timur pinggiran Jakarta. Di sinilah, menurut perkiraan Poerbatjaraka, letak istana kerajaan Tarumanengara (Hindu).

Abad ke-7
      Pada abad ke-7 Kerajaan Tarumanagara ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya (Budha).
Pada saat inilah berdatangan penduduk Melayu dari Sumatera, kemudian mereka mendirikan pemukiman di pesisir Jakarta, yang kemudian lambat laun (dengan pola asimilasi) bahasa Melayu menggantikan kedudukan bahasa Kawi sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Bahasa Melayu mula-mula hanya dipakai di daerah pesisir saja, namun kemudian meluas hingga ke daerah kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Bagi masyarakat Betawi keluarga punya arti penting. Kehidupan berkeluarga dipandang suci. Anggota keluarga wajib menjunjung tinggi martabat keluarga.

Abad ke-10
Sekitar abad ke-10, terjadi persaingan antara orang Melayu (Kerajaan Sriwijaya) dengan Wong Jawa yang tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan yang berujung dengan peperang, dimana orang-orang Cina demi kelangsungan perniagaan mereka, mereka berdiri di dua kaki, atau sebagian berpihak ke Kerajaan Sriwijaya, dan sebagian berpihak ke KerajaanKediri. Usai perang, kendali lautan dibagi dua :
  • Sebelah barat mulai dari cimanuk, juga pelabuhan sunda dikendalikan sriwijaya
  • Sebelah timur mulai dari kediri dikendalikan kediri
 Sriwijaya meminta Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian barat. Tetapi Syailendara lambat-laun tidak sanggup, akhirnya  Sriwijaya terpaksa mendatangkan migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa. Pada periode inilah terjadi penyebaran bahasa Melayu yang signifikan di Kerajaan Kalapa, karena  gelombang imigrasi yang lebih besar daripada penduduk asli yang menggunakan bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di Kerajaan Kalapa. 

Periode Kolonial Belanda

Abad ke-16
      Perjanjian antara Surawisesa (Raja Kerajaan Pajajaran) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512, mengizinkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa, yang mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis, yang pada akhirnya menurunkan darah campuran Portugis.
      Dari komunitas campuran inilah lahir musik Keroncong, atau dikenal sebagai Keroncong Tugu. Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, VOC memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian, dan membangun roda perekonomian kota ini. Saat itulah VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan. Oleh karenanya masih ada tersisa kosa-kata dan tata-bahasa Bali dalam bahasa Betawi saat ini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Dunia, juga seperti; Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini.
      Pengaruh suku bangsa asing yang datang inilah, terlihat dari busana pengantin Betawi yang banyak unsur Arab dan Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa lain ke Batavia, seperti; Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.

Abad ke-20
      Menurut Uka Tjandarasasmita penduduk asli Jakarta telah ada sejak 3500-3000 tahun sebelum masehi. Antropolog lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orangRawabelong.Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas (pada saat itu adalah Hindia Belanda), yakni dengan munculnya Perkoempoelan Kaoem Betawi pada tahun 1923, yang digagas oleh Husni Thamrin, sebagai tokoh masyarakat Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi. Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda, tetapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut, yang disebut sebagai masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia, kala itu sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera. Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri pendatang dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi, menjadi warga tuan rumah yang minoritas.Pada tahun 1961, 'suku' Betawi bejumlah kurang lebih 22,9 persen dari + 2,9 juta penduduk Jakarta pada saat itu, hal ini menunjukan orang-orang Betawi semakin terdesak ke pinggiran, bahkan tergusur ke luar Jakarta.

3. BAHASA
 Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik  yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris. Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

4. KEPERCAYAAN
Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara

5. KESENIAN DAN KEBUDAYAAN SUKU BETAWI
Kesenian dan kebudayaan betawi pada awalnya hanya tumbuh dan berkembang dikalangan kelompok masyarakat yang terbatas, yaitu yang dikenal sebagai masyarakat betawi. Setelah kota jakarta berkembang pesat sebagai ibukota negara dan pusat kebudayaan atau gerbang budaya, kesenian dan kebudayaannya juga ikut berkembang. Berikut ini kesenian dan kebudayaan suku betawi :

A. Musik
Musik betawi itu menunjukan keanekaragaman cikal baka masyarakatnya. Contoh dari ciri khas seni suku betawi adalah seni Gambang Kromong yang berasal dari seni usic Tionghoa, ada pula Rebana yang berakar pada tradisi usic Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Contoh lain dari seni musik betawi  adalah: orkes gambus, gamelan topeng, musik samrah, sampyong.  Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

B. Seni Tari
Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, tari cokek, tari japin, tari lenggang nyai, tari ngarojeg, tari belenggo dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

C. Seni Teater
Teater tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton. Teater dalam suku betawi dibagi menjadi 2 yaitu: teater tanpa tutur dan teater peran. Contoh teater tanpa tutur adalah: ondel-ondel, gemblokan, rancaq, dan lain-lain. Sedangkan contoh teater peran adalah : topeng, jipeng, lenong, sahibul hikayat.

D. Cerita Rakyat
Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal “keras”. Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman Kolonial

E. Pakaian Adat
Pakaian adat Betawi banyak dipengaruhi oleh berbagai negara lain. Hal itu dikarenakan Betawi adalah pencampuran budaya dari berbagai negara. Ada beberapa macam pakaian Betawi yang ada saat ini diantaranya adalah pakaian adat Betawi sehari-hari untuk laki laki adalah baju Koko atau disebut Sadariah. Baju Koko Betawi berwarna polos, memakai celana batik berwarna putih atau hitam, memakai selendang yang dipakai dipundak dan peci hitam sebagai identitas Kebetawian. Pakaian adat untuk perempuan yang dipakai sehari-hari yaitu baju kurung berlengan pendek, kain sarung batik, kerudung.
Selain itu, ada juga pakaian adat untuk pengantin laki-laki masyarakat Betawi yang dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, Melayu dan Cina yaitu Dandanan care haji. Pakaian ini adalah jubah dan tutup kepala dan diadaptasi dari pakaian haji. Jubah terbuat dari bahan beludru sedangkan tutup kepala terbuat dari sorban yang disebut juga alpie. Untuk pakaian pengatin perempuan di Betawi disebut rias besar dandanan care none pengantin cine. Pakaian ini juga sedikitnya mirip dengan pakaian pengantin perempuan di Cina. Pakaian pengantin yang dipakai oleh kalangan bangsawan di Cina.

E. Rumah Adat
Sebutan rumah kebaya bagi rumah adat betawi sebetulnya berasal dari kontruksi atap rumah ini yang jika dilihat dari samping memiliki lipatan-lipatan mirip lipatan kain kebaya. Kain kebaya sendiri merupakan kain tradisional betawi yang hingga kini sering dikenakan para wanita betawi pada saat upacara-upacara adat mereka.

F. Makanan dan Minuman Betawi
Dalam warisan turun temurun suku betawi juga memiliki makanan dan minuman khasnya. Makanan khas betawi contohnya: getuk lindri, kue kembang goyang, roti gambang, roti buaya, ongol-ongol, kerak telor, soto betawi, nasi ulam, dan lain-lain. Sedangkan contoh dari minuman khas betawi adalah: es slendang mayang, bir pletok, es doger. Saat ini makanan dan minuman betawi yang masih kerap dijumpai adalah kerak telor, nasi ulam, es doger, dan lain-lain.
Ditinjau dari sejarahnya, Jakarta memiliki perjalanan yang sangat panjang, serta memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Bahkan, dalam perkembangannya dari dulu hingga sekarang, Jakarta berkembang dengan pesat, terutama dari segi perekonomian dan pembangunan. Selain dari sejarahnya yang panjang, Jakarta pun memiliki kesenian dan kebudayaan yang dikenal dengan Betawi. Kesenian dan kebudayaan Jakarta, dalam proses perkembangannya pun, terutama di masyarakat modern bisa dikatakan kian hari kian hilang. Hal ini disebabkan dari pesatnya teknologi dan budaya Barat yang sudah menjamur. Untuk itu, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia khususnya kebudayaan Betawi yang ada di Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA :

Nirwanto Ki S. Hendrowinoto. 1998. Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta
Wijaya, Hussein (ed.). 1976. Seni Budaya Betawi. Pralokarya Penggalian Dan Pengem¬bangannya.  Jakarta:  PT Dunia Pustaka Jaya